Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 
Senin, 26 November 2012

Slow Release Fertilizer, Peranan Kimia dalam Pertanian

1 komentar


Pertanian memegang peranan penting dalam perekonomian suatu negara, termasuk Indonesia. Sektor ini merupakan salah satu faktor sentral yang menentukan bagaimana suatu bangsa dapat berkembang. Pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat serta keinginan untuk meningkatkan perekonomian mendorong Negara Indonesia untuk melakukan peningkatan produksi pertanian. Peningkatan produksi pertanian dapat dilakukan dengan dua cara, yakni ekstensifikasi dan intensifikasi. Ekstensifikasi merupakan suatu usaha untuk meningkatkan produksi pertanian dengan memperluas lahan pertanian, dengan harapan produksi pertanian dapat meningkat. Berbeda dengan ekstensifikasi, intensifikasi merupakan suatu usaha untuk meningkatkan produksi pertanian dengan cara meningkatkan kapasitas pertanian pada luas lahan yang tetap.

Usaha intensifikasi untuk meningkatkan produksi pertanian dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya adalah penggunaan bibit unggulan, penggunaan pestisida, serta pemupukan. Pemupukan adalah suatu usaha untuk memenuhi kebutuhan zat hara / nutrisi dalam tanah dengan cara pemberian pupuk. Penggunaan pupuk dalam produksi pertanian pada saat ini merupakan suatu usaha yang harus dilakukan, hal ini mengingat ketersediaan unsur hara dalam tanah akan selalu berkurang pada setiap siklus pertumbuhan tanaman dalam pertanian.

Berdasarkan jenis sumber dan kandungan nutrisinya, pupuk dapat dibagi ke dalam dua golongan, yakni pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik adalah pupuk yang bersumber dari hasil metabolisme makhluk hidup dan memiliki unsur hara yang terkandung secara alami. Berbeda dengan pupuk organik, pupuk anorganik merupakan hasil sintesis yang secara spesifik hanya mengandung unsur-unsur yang diperlukan oleh pertumbuhan tanaman, diantaranya adalah nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), dan terkadang sulfur (S).

Penggunaan pupuk anorganik secara konvensional memiliki beberapa dampak negatif bagi lingkungan serta ekonomi. Dampak lingkungan penggunaan pupuk anorganik secara konvensional adalah terjadinya penumpukan zat hara dengan komposisi tidak seimbang dalam tanah. Dengan adanya aliran air, zat hara yang menumpuk tersebut akan tersebar dan menyebabkan pencemaran lingkungan. Dampak ekonomi yang ditimbulkan dari penggunaan pupuk anorganik secara konvensional adalah terjadinya pemborosan penggunaan pupuk. Untuk menjaga kandungan zat hara pada tanah, harus dilakukan pemupukan secara berkala dan memakan biaya yang cukup besar. Kedua dampak tersebut pada dasarnya disebabkan karena proses penyerapan zat hara yang dilakukan tanaman tidak terjadi secara spontan, melainkan berkala dan memerlukan cukup waktu. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan suatu jenis pupuk yang memiliki pola pelepasan zat hara yang menyerupai pola penyerapan zat hara oleh tanaman.


Pupuk lepas lambat, atau yang lebih dikenal dengan SRF (slow release fertilizer), dapat diartikan sebagai pupuk yang memiliki mekanisme pelepasan nutrisi secara berkala. Jenis pupuk ini memiliki mekanisme pelepasan zat hara berbeda dengan pupuk konvensional yang terjadi secara spontan. Mekanisme pelepasan zat hara yang dapat digunakan dalam SRF meliputi seluruh mekanisme yang berdasarkan pada fenomena fisika, kimia, serta biologi. Beberapa mekanisme yang berpotensi untuk dapat diterapkan dalam produksi SRF di Indonesia adalah mekanisme pelapisan pupuk dengan membran semipermeabel, serta mekanisme peleburan zat hara pupuk dalam suatu matriks. Prinsip utama dari kedua mekanisme tersebut adalah dengan membuat suatu hambatan berupa interaksi molekuler sehingga zat hara dalam butiran pupuk tidak mudah lepas ke lingkungan. 

One Response so far.

Leave a Reply

 
Majalah Kimia © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here